Pages

Sabtu, 10 Agustus 2013

Resensi Buku Max Havelaar (Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda)



Resensi Buku Max Havelaar

Awalnya sih ane pengen ngerensi buku ini gan. Coz, nih buku menarik dan legendaris banget. Buat ngedapetinnya aja, ane mesti pesen dulu ke tukang buku loakan. Tp waktu ane googling, ternyata bnyk jg Blogger yg uda ngerensi buku ini gan. Jadinya, ane berubah pikiran deh. Walopun gitu, ane pngen bikin sdikit tulisan aja tentang nih buku, cuman skedar biar qt g lupa ama sjarah gan :D

Buku ini sebenarnya berjudul Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda. Tapi, belakangan masyarakat lebih mengenalnya dengan judul Max Havelaar.

 Buku Max Havelaar tampak cover


Buku ini menceritakan tentang kehidupan Eduard Douwes Dekker atau yang biasa kita kenal Multatuli. Di buku ini juga, kita akan mengetahui jika pengertian nama Multatuli adalah aku yang selalu menderita. Dalam buku yang sudah legendaris di Belanda ini, Multatuli berusaha mengangkat kehidupan masyarakat Jawa, khususnya petani di daerah Lebak yang banyak mengalami penderitaan. Namun, sang penulis tidak menggunakan nama aslinya dalam cerita ini, melainkan dia memakai nama Max Havelaar yang memiliki jabatan sebagai asisten residen Lebak. 

Penderitaan para petani Lebak tersebut, lebih banyak disebabkan oleh kesewenang-wenangan para pejabat atau pangreh praja pribumi, dalam hal ini yang dimaksud adalah Bupati Lebak. Salah satu bentuk kesewenang-wenangan yang berusaha diprotes oleh Havelaar, ialah ketika sang bupati mengerahkan tenaga rakyat secara cuma-cuma untuk membersihkan halaman rumahnya.

Saat itu, sang bupati hendak menerima tamu Bupati Bogor dan Bupati Cianjur. Havelaar memprotesnya dengan mengirimkaan surat langsung kepada atasannya Residen Banten Slijmering.
Sayangnya, oleh Siljmering surat pengaduan Havelaar justru ditanggapi berbeda oleh Slijmering. Slijmering menganggap, pengaduan Havelaar merupakan ancaman bagi kelangsungan pemerintahan Hindia Belanda. 

Sebab, saat itu pemerintah masih sangat membutuhkan jasa para pejabat pribumi. Sehingga, walaupun para pejabat pribumi tersebut melakukan penindasan kepada rakyat, maka pemerintah kolonial hanya bisa diam saja.

Buku Max Havelaar tampak dalam: Foto ED Douwes Dekker sang penulis atau  Multatuli


Tidak hanya itu, Slimering sebenarnya juga memiliki kepentingan pribadi untuk meredam protes Havelaar. Sebab, selama ini dirinya selalu melaporkan kepada Gubernur Jendral, jika kondisi daerah yang dipimpinnya selalu aman, dan sejahtera. Maka, apabila pengaduan protes yang dilakukan oleh Havelaar muncul ke permukaan, maka hal itu akan membuat kinerjanya dievaluasi oleh atasannya langsung, sang Gubernur Jenderal.

Akibat sikap kritisnya itu, Havelaar kemudian dipindahkan tugasnya menjadi Asisten Residen Ngawi. Namun, secara tegas Havelaar menolaknya. Sebab, Havelaar mengetahui yang akan menjadi atasannya kelak, yaitu Residen Yogyakarta masih memiliki hubungan kerabat dengan Bupati Lebak. Sehingga, Havelaar memilih untuk mundur dari jabatannya. 

Kendati demikian, setelah mengundurkan diri dari jabatannya, Havelaar mengajak istrinya Tine dan putranya pergi ke Batavia untuk menemui Gubernur Jenderal. Rencananya, Havelaar yang masih bersikeras jika dirinya tidak bersalah, masih memiliki keinginan supaya pemerintah menindak tegas Bupati Lebak yang korup dan sewenang-wenang. Pasalnya, Havelaar berkeyakinan jika pemerintah kolonial, khususnya Gubernur Jenderal masih memiliki niat baik untuk mensejahterakan masyarakat pribumi.

Sayangnya, niatan Havelaar itu tidak pernah tercapai. Sebab, sang Gubernur Jenderal enggan menemuinya dengan alasan sibuk, dan harus segera kembali ke Belanda untuk digantikan oleh calon penggantinya.   

4 komentar:

  1. Terima kasih untuk inspirasinya. Salam kenal -- http://rybbani.blogspot.com

    BalasHapus
  2. oke, sama2 mas, salam kenal juga dari saya :)

    BalasHapus
  3. Udah baca bukunya tapi sangat sulit untuk dicerna, mungkin karena terjemahannya kaku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya memang begitu mas,tp sebenarnya saat ini cetakan yang baru lumayan lebih luwes dari yang cetakan tahun 70 an seperti yang saya punya itu :)

      Hapus

About

Planet Blog

PlanetBlog - Komunitas Blog Indonesia

Indonesian Blogger