Pencinta sastra tentu mengenal novel sejarah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Novel dengan latar Indonesia pada masa penjajahan Belanda pada 1898 hingga 1918 itu disebut sebagai salah satu mahakarya atau karya terbaik Pramoedya.
Bumi Manusia ialah satu di antara empat novel (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) yang dikenal juga dengan sebutan Tetralogi Buru, karena dikarang saat Pramoedya diasingkan di Pulau Buru, Maluku, pada 1969 sampai 1979.
Bumi Manusia telah 19 kali cetak ulang sejak tahun 1980 sampai 2015. Diterjemahkan ke dalam 33 bahasa, di antaranya, Belanda, Tiongkok, Inggris, Jerman, Rusia, Ukraina, Swedia, Jepang, Spanyol, Perancis, Italia, Norwegia, India, Thailand, Filipina, dan lain-lain.
Tetralogi Buru mengantarkan Pramoedya meraih banyak penghargaan dunia di bidang sastra. Karena Tetralogi Buru pula Pramoedya berkali-kali masuk dalam daftar kandidat pemenang penghargaan Nobel untuk kategori sastra.
Majalah Time pernah menulis: “Pramoedya Ananta Toer, kandidat Asia paling utama untuk Hadiah Nobel.”
The New York Times menyebut “Pramoedya Ananta Toer adalah seorang master cemerlang dalam mengisahkan liku-liku emosi, watak, dan aneka motivasi yang serba rumit.”
Bumi Manusia, ditulis The Los Angeles Times, “Menukik dalam, lancar penuh makna, dan menggairahkan seperti James Balwin … Segar, cerdas, kelabu, dan gelap seperti Dashiell Hammett. Pramoedya adalah seorang novelis yang harus mendapat giliran menerima Hadiah Nobel.”
Sumber: https://www.viva.co.id/berita/nasional/731939-kisah-naskah-mahakarya-pramoedya-disimpan-di-lubang-tinja
Penyelundupan naskah
Namun tak banyak orang yang mengetahui kisah sebelum Bumi Manusia dicetak untuk kali pertama, sampai ke tangan pembaca, dan kemudian melambungkan nama Pramoedya. Pramoedya, yang dibuang ke Pulau Buru karena dituduh terlibat gerakan Partai Komunis Indonesia pada 1965, mengarang Bumi Manusia secara sembunyi-sembunyi di tahanan Pulau Buru.
Manuskrip atau naskah asli Bumi Manusia tak mungkin bisa keluar Pulau Buru karena pengawasan super ketat di sana. Ada seorang pria yang berjasa menyelundupkan naskah asli Bumi Manusia keluar Pulau Buru. Dia adalah Oei Hiem Hwie. Lelaki yang kini berusia 81 itu pernah ditahan juga bersama Pramoedya di Pulau Buru.
Oei sebenarnya kelahiran Malang tetapi bermukim di Surabaya setelah bebas dari Pulau Buru. Dia mendirikan sebuah perpustakaan untuk umum di Surabaya. Sebagian buku koleksinya adalah semua karya Pramoedya, termasuk naskah asli Bumi Manusia.
Oei bercerita, dia dikirim ke Pulau Buru pada tahun 1970, setahun setelah Pramoedya. Dia sebelumnya memang telah mengetahui Pramoedya ditahan di Pulau Buru tetapi belum tahu persis lokasi blok tempat Sang Master dibui.
Oei pun mencari informasi tentang di blok mana Pramoedya ditahan. Usahanya membuahkan hasil. Oei memperoleh informasi bahwa Pramoedya ditahan di Unit III. Dia mengakui sebenarnya informasi keberadaan Pramoedya didapat dengan relatif mudah. Sebabnya Pramoedya adalah orang yang populer sehingga banyak pula tahanan politik yang mengenalinya.
Keduanya mengobrol dan berdiskusi banyak hal setelah bertemu. Mereka kemudian kian akrab. Oei mengaku sering membantu Pramoedya, termasuk membantu melobi penjaga tahanan untuk meminjam mesin ketik.
Dengan mesin ketik itu, Pramoedya mengarang sebuah naskah yang kemudian menjadi cikal-bakal novel Bumi Manusia. Namun aktivitas mengarang itu dilakukan Pramoedya dengan sembunyi-sembunyi.
Untuk menjaga agar naskah hasil karangan itu tidak diketahui penjaga, Pramoedya dan Oei bersekongkol membuat lubang yang ditutupi sehingga menyerupai tempat penampungan tinja atau septic tank.
“Kami membungkus naskah yang diketik Pram di kertas tipis itu dengan daun pisang, dan dimasukkan ke lubang itu. Jadi orang-orang mengira kalau lubang itu memang tempatnya tinja,” kata Oei ditemui VIVA.co.id pada Senin, 1 Februari 2016.
Sumber: https://www.viva.co.id/berita/nasional/731939-kisah-naskah-mahakarya-pramoedya-disimpan-di-lubang-tinja
Pramoedya menolak
Berbagai naskah itu kemudian dikumpulkan Oei. Dia juga menyatukan semua naskah dengan lem yang terbuat dari singkong yang direbus hingga tanak. Saat Oei bebas, Pramoedya menitipkan naskah itu kepadanya.
Awalnya, Oei merasa khawatir dengan tindakan Pramoedya. Beruntung saat itu naskah yang telah disampul dengan kertas semen berulang kali lolos dari pemeriksaan, termasuk pemeriksaan saat Oei berada di kapal untuk kembali pulang ke Surabaya.
Meski demikian, Oei mengaku bahwa bukan hanya dia yang telah menyelamatkan naskah asli Bumi Manusia itu. Seorang pastor juga ikut menyelipkan naskah itu, bahkan mengirimkannya kepada Hasta Mitra, penerbit buku yang kali pertama mencetak Bumi Manusia.
Setelah Pramoedya bebas dari tahanan Pulau Buru, Oei berencana mengembalikan semua naskah yang disimpannya. Namun Pramoedya justru menolaknya. Pramoedya hanya meminta fotokopi semua naskah karyanya. Oei menduga, Pramoedya masih khawatir naskah itu akan dirampas aparat pemerintah Orde Baru. Dia merasa akan lebih aman jika naskah itu disimpan Oei.
Sampai sekarang naskah itu masih disimpan Oei di perpustakaan miliknya, yang juga dibuka untuk umum, Medayu Agung. "Jadi, biarlah seluruh generasi muda bisa mengaksesnya, karena naskah itu pada dasarnya milik semua anak bangsa," ujar Oei.
Sumber: https://www.viva.co.id/berita/nasional/731939-kisah-naskah-mahakarya-pramoedya-disimpan-di-lubang-tinja
Tampilkan postingan dengan label maen-maen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maen-maen. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 Februari 2018
Sedapnya Nyeruput Kaldu Krokot Tulang Sumsum Madura
Bagi sebagian orang, Madura selalu dikaitkan dengan salah satu budaya unik, yaitu karapan sapi. Namun, Madura rupanya tidak hanya kaya akan budayanya, melainkan juga memiliki kuliner yang cukup beragam.
Salah satu kuliner khas Madura yang layak dicicipi adalah krokot tulang sumsum. Kuliner ini memang cukup mudah dan banyak ditemui di Madura, khususnya di Kabupaten Sampang.
Namun, salah satu tempat yang cukup terkenal karena menjual makanan ini adalah Warung Kaldu Al Ghazali. Krokot merupakan makanan dengan bahan dasar tulang sapi.
Ujung tulang tersebut berlubang karena telah dipatahkan. Lalu pada bagian luar tulang itu masih terdapat sebagian daging sapi.
Sedangkan, pada bagian dalam tulang terdapat sumsum lembut. Untuk bisa memakan sumsum tersebut harus menggunakan sedotan.
“Jadi makannya harus diseruput seperti minum, tapi rasanya nikmat sekali,” kata pemilik warung Ghazali, di Sampang, Madura, Minggu, 27 Maret 2016.
Ghazali mengungkapkan, untuk mendapatkan rasa krokot yang enak, dia memasaknya dengan sejumlah rempah-rempah.
“Lalu kita campur dengan santan, dan direbus dalam air panas selama beberapa jam, lalu jadilah krokot tulang sumsum yang kental,” ungkap Ghazali.
Sumber: https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kuliner/753119-nikmatnya-menyeruput-krokot-tulang-sumsum-madura
Untuk menikmati kuliner tersebut, para pengunjung tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Sebab, hanya dengan uang sekitar Rp40 ribu, maka seporsi krokot tulang sumsum, beserta nasi putih sudah bisa dinikmati.
Salah seorang pengunjung Panca Indra, asal Sidoarjo, mengungkapkan, krokot tulang sumsum yang disediakan di Warung Kaldu Al Ghazali berbeda dengan tempat lain. “Kuah kaldunya lebih kental, aroma sapinya kuat, dan ada sedikit rasa pedasnya,” papar Panca.
Panca mengatakan, dia selalu menyempatkan diri untuk mampir ke tempat itu apabila dia sedang berada di Madura.
“Saya dua bulan sekali selalu ke Madura karena mengunjungi orangtua, dan selalu makan di sini juga, krokotnya bikin kangen. Soalnya di Sidoarjo, atau di Surabaya tidak ada yang jual,” ucapnya.
Tulisan ini pernah dimuat di VIVA.co.id, 28 Maret 2016
Salah satu kuliner khas Madura yang layak dicicipi adalah krokot tulang sumsum. Kuliner ini memang cukup mudah dan banyak ditemui di Madura, khususnya di Kabupaten Sampang.
Namun, salah satu tempat yang cukup terkenal karena menjual makanan ini adalah Warung Kaldu Al Ghazali. Krokot merupakan makanan dengan bahan dasar tulang sapi.
Ujung tulang tersebut berlubang karena telah dipatahkan. Lalu pada bagian luar tulang itu masih terdapat sebagian daging sapi.
Sedangkan, pada bagian dalam tulang terdapat sumsum lembut. Untuk bisa memakan sumsum tersebut harus menggunakan sedotan.
“Jadi makannya harus diseruput seperti minum, tapi rasanya nikmat sekali,” kata pemilik warung Ghazali, di Sampang, Madura, Minggu, 27 Maret 2016.
Ghazali mengungkapkan, untuk mendapatkan rasa krokot yang enak, dia memasaknya dengan sejumlah rempah-rempah.
“Lalu kita campur dengan santan, dan direbus dalam air panas selama beberapa jam, lalu jadilah krokot tulang sumsum yang kental,” ungkap Ghazali.
Sumber: https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kuliner/753119-nikmatnya-menyeruput-krokot-tulang-sumsum-madura
Untuk menikmati kuliner tersebut, para pengunjung tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Sebab, hanya dengan uang sekitar Rp40 ribu, maka seporsi krokot tulang sumsum, beserta nasi putih sudah bisa dinikmati.
Salah seorang pengunjung Panca Indra, asal Sidoarjo, mengungkapkan, krokot tulang sumsum yang disediakan di Warung Kaldu Al Ghazali berbeda dengan tempat lain. “Kuah kaldunya lebih kental, aroma sapinya kuat, dan ada sedikit rasa pedasnya,” papar Panca.
Panca mengatakan, dia selalu menyempatkan diri untuk mampir ke tempat itu apabila dia sedang berada di Madura.
“Saya dua bulan sekali selalu ke Madura karena mengunjungi orangtua, dan selalu makan di sini juga, krokotnya bikin kangen. Soalnya di Sidoarjo, atau di Surabaya tidak ada yang jual,” ucapnya.
Tulisan ini pernah dimuat di VIVA.co.id, 28 Maret 2016
Senin, 19 Februari 2018
Masjid Kemayoran Simbol Nasionalisme Warga Surabaya
Sebagai sebuah kota yang telah berusia 722 tahun,
Surabaya tentunya memiliki banyak bangunan cagar budaya yang bernilai sejarah
tinggi. Sayang, tidak semuanya diketahui oleh masyarakat sebagai cagar budaya.
Padahal, tidak jarang bangunan-bangunan tersebut
memiliki sejarah, dan cerita yang menarik di balik pembangunannya. Salah
satunya adalah Masjid Kemayoran yang ada di Jalan Indrapura.
Masjid yang
sebenarnya bernama Roudhotul Musawwaroh ini didirikan pada tahun 1772 silam.
Terdapat cerita menarik di balik pendirian masjid
ini. Awalnya, lokasi Masjid Rhoudotul Musawwaroh tidaklah berada di Jalan
Indrapura seperti sekarang ini. Melainkan, berada di depan Kantor Gubernur
Jatim, atau Jalan Pahlawan tepatnya berada di areal Tugu Pahlawan sebelum tahun
1722.
Salah seorang Takmir Masjid Kemayoran Subhan
mengatakan, keberadaan Masjid Rhoudotul Musawwaroh saat itu dipermasalahkan
oleh pemerintah kolonial Belanda. Alasannya saat itu pemerintah Belanda merasa
terganggu dengan adanya masjid tersebut. “Mereka itu orang-orang Belanda risih
kalau di depannya ada pengajian, adzan, dan puji-pujian dari masjid,”tutur
Subhan.
Oleh karena itu, pemerintah Belanda kemudian meminta
kepada warga agar tidak tidak ada masjid di tempat itu. Keinginan semacam itu
tentu saja langsung ditolak oleh masyarakat. Bahkan, masyarakat pun menjadi
marah karenanya. Akibatnya pertempuran hebat puin meletus pada tahun 1750.
Subhan menuturkan, pertempuran itu dipimpin langsung oleh Kiai Badrun.
Berdasarkan pengakuan Subhan, Kiai Badrun merupakan
kerabat dari Paku Alam V dari Kasunan Surakarta. “Jadi beliau itu masih
memiliki keturunan ningrat,”urai Subhan.
Dalam pertempuran itu, Kiai Badrun
gugur tertembak oleh pasukan Belanda. Sebagai bentuk penghargaan atas
kepemimpinannya dalam melawan Belanda, masyarakat sekitar pun memberinya gelar
sebagai Mbah Sedo Masjid.
Meski demikian, konflik terkait pemindahan masjid
itu masih belum berhenti. Masyarakat saat it uterus melakukan perlawanan terhadap
rencana Belanda tersebut.
Perlawanan yang begitu hebat dari masyarakat saat itu
akhirnya membuahkan hasil. Belanda kemudian mengubah kebijakannya. Caranya,
dengan memindahkan masjid itu ke lokasi lainnya. “Jadi semacam dilakukan tukar
guling tanah,”ucap Subhan.
Kebijakan itu pun mendapatkan persetujuan dari
masyarakat. Sehingga, masjid itu dipindahkan ke sebuah lahan bekas milik
seorang milik mayor angkatan darat Belanda, yang berada di sisi utara lokasi
asal. “Makanya, masyarakat kemudian sering menyebut masjid ini dengan nama
Masjid Kemayoran,”papar Subhan.
Subhan melanjutkan, saat dipindahkan awalnya masjid
ini memiliki dua menara, atau menara kembar. Namun, belakangan menara tersebut
hanya tinggal sebuah. Menurutnya, hal itu disebabkan adanya gempa yang pernah
melanda Surabaya. Sayang, Subhan tidak mengingat dengan jelas kapan hal itu
terjadi.
Penjelasan itu juga untuk membantah kabar yang
selama ini beredar, jika masjid menara itu tinggal sebuah karena adanya
sambaran petir. “Jadi yang soal tersambar petir itu sama sekali tidak
benar,”bantah Subhan.
Sumber foto: http://surabaya.panduanwisata.id/wisata-religi/mengenang-sejarah-dan-wisata-religi-di-masjid-kemayoran/
Selain menara yang hanya tinggal satu, Subhan
mengungkapkan, sebagian kondisi masjid yang memiliki luas sekitar 800 meter
persegi itu memang telah mengalami perubahan. Salah satunya dengan membangun
ruang tambahan, serta tempat wudhu agar bisa lebih banyak jamaah yang bisa
tertampung. Sedangkan, beberapa bagian asli dari masjid itu tampak masih
dipertahankan. Misalnya, sebuah prasasti yang tertempel di dalam masjid.
Prasasti itu ditulis dalam aksara Jawa, yang berisi tentang pernyataan dari
Gubernur Jenderal Belanda saat itu Mister Daniel Frans Willem Pietermat, yang
telah memberikan masjid itu kepada warga. Dalam prasasti itu juga disebutkan
masa pembangunan masjid itu antara tahun 1772 hingga 1776.
Sementara itu, sejarawan Surabaya Dukut Imam Widodo
mengatakan bangunan Masjid Roudhotus Musawwaroh, atau Masjid Kemayoran yang
saat ini sudah jauh berbeda dengan bentuk aslinya. “Sepertinya memang sudah
banyak direnovasi untuk berbagai keperluan, seperti yang ada di ruang utama
masjid,”jelas Dukut.
Penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe itu menyayangkan
renovasi besar-besaran masjid itu, yang justru menghilangkan corak asli
bangunan. “Masyarakat kita itu kalau membangun rata-rata selalu disertai dengan
perobohan bangunan asli, dan selalu mementingkan kemegahan. Padahal, kalau mau
mempercantik kan bisa dengan menambah bangunan baru di sekitar masjid,”sesal
Dukut. (jan) (Tulisan ini pernah diterbitkan di Harian
Radar Surabaya)
Selasa, 03 Januari 2017
Kabar Hoax 2017, Buto Ijo, dan Pemimpin Terbaik Asia Tenggara Versi Bloomberg
Sebelume aku mau ngucapin Selamat Tahun Baru 2017 buat
pembaca setia blogku ini. Eaaa…emang ada? #sokngartis
Harapan baru pun banyak diucapin orang2 di tahun yang baru
ini. Mulai dari rezeki yang makin berlimpah, kesehatan, bahkan sampai datangnya
jodoh yang sekarang entah di mana? #galaumaksimal buat yang masih jomblo.
Tapi harapan yang paling asik tuh ya berkurangnya ato bahkan
hilangnya berita HOAX dari jagat sosmed di Indonesia. Hmmm… kira2 bisa ndak ya?
Nah ini yang bakalan jadi pertanyaan kita gan. Kita mesti
apresiasi sih usahanya pemerintah buat merangin hoax. Secara sekarang ini
banyak banget kabar hoax yang beredar di sosmed. Mulai dari aku yang
disebut-sebut mirip ama Nicholas Saputra, lalu digosipin pacaran ama Pevita dan
sebagainya.
Tapi kalo jadi kenyataan ya gak papa sih.
Foto:
http://komputerlamongan.com/wp-content/uploads/2014/12/Berita-Sampah-dalam-Internet-Hoax.jpg
Ok fokus ke masalah asal ya gan. Tapi sadar gak sih, klo
sejak kecil kita selalu nerima kabar, cerita dan segala sesuatu yang berbau
hoax dari orang tua kita, ato orang yang lebih dulu hidup di Indonesia.
Misalnya klo ada gerhana bulan, tuh orang2 tua mesti bilang
kalo bulannya lagi dimakan ama Buto Ijo ato raksasa. Terus klo ada cewek yang
nyapunya gak bersih, mesti dibilang nanti kalo suaminya bakalan berewokan.
Terus Hoax untuk tingkatan yang beda tingkatan lagi…#tssaahhh…
beda tingkatan he he…misalnya persoalan klo Indonesia ini dijajah Belanda 350
tahun. Ini kan hoax gan…padahal Belanda lah yang butuh ratusan tahun buat
naklukin seluruh Indonesia, bukan kita yang dijajah. Gak percaya? Sonoh…baca
buku Bukan 350 Tahun Dijajah-nya Resink.
Terus ada yang bilang klo Maja Pahit tuh nyatuin seluruh
nusantara. Gak percaya ini hoax? Coba tanyain deh ke daerah lainnya di luar
Jawa, ato misalnya cukup ke Sunda aja. Pasti jawabannya beda banget. Apa ndak
hoax juga tuh?
Makanya, sebenarnya kita tuh uda biasa hidup dengan hoax.
Bahkan, cenderung menyukai hoax, asalkan itu hoax yang menyenangkan. Makanya,
aneh juga klo pemerintah sekarang mau merangin kabar hoax. Tapi gimanapun juga
tetep salut dan perlu diapresiasi lah. Setidake kemaren2 kan baru dapet
penghargaan dari Bloomberg sebagai pemimpin terbaik se Asia Tenggara. Eh…itu
termasuk HOAX bukan juga ndak ya? #ups keceplosan
Minggu, 22 Mei 2016
HUT Surabaya, Anda Keluar Rumah, Uang, Hore2, Lalu Lelah
Tahun ini, HUT Surabaya jatuh pada tanggal 31 Mei. Ya sama
sih kayak tahun-tahun sebelumnya. Gak ada bedanya.
Bagi Arek Suroboyo
nyel ato asli, pasti bakalan hafal ulang tahun Surabaya kayak gimana. Pasti
bakalan ada parade bunga, konser musik, festival kuliner dan sebagainya. Intine
sih bakalan sama.
Tapi anehnya, dengan berbagai acara yang hampir sama setiap
tahunnya (kalaupun ada perubahan mungkin hanya sedikit), peminat dari itu acara
banyak banget. Yang dateng mesti mbludak.
Mungkin klo pake boso
Suroboyoan, kira2 bakalan bilang gini,”Iku
sing teko nontok nang acara ngunu iku Arek Suroboyo ta? Kok ndeso yo?”.
Tau artinya? Klo ndak tahu oke aku terjemahin deh. Kira2
artinya gini,”Itu yang datang menonton di acara kayak gitu Arek Suroboyo ya?
Kok kayak orang ndeso?”.
Buat yang dari desa piss, asli aku minta maaf banget.
Tulisan ini bukan buat ngehina kalian kok. Cuman buat nyindir kelas menengah
yang haus akan hiburan, padahal acaranya ya sama, gitu2 aja.
Aku sendiri males banget datang ke acara macam gitu. Tapi
pernah sih sekali, pas ada Pasar Malam Tjap Toendjoengan di East Coast.
Sebenere males banget buat berangkat ke sana, tapi berhubung
ada yang ngajakin (cieee…yang ngajakin kamu lho, kamu….iya kamu…kamu..kamunya
aku), akhirnya ya berangkat deh.
Pas uda nyampe di sana, bener deh rasa malesnya makin
bertambah, soalnya yang datang banyak banget.Pokoke naudzubillah deh. Padahal di
sana lebih kayak pasar malem buat kuliner plus ada penampilan band keroncong.
Yang bikin sebel lagi, tuh orang2 egonya tinggi banget gan.
Setiap mau duduk di bangku yang kosong, selalu dibilang klo tuh bangku uda ada
yang nempatin. Padahal ya masih kosong. Akhirnya, niat awal yang pengennya
nikmatin malam minggu sambil wisata kuliner di tempat itu batal.
Tapi harus diakui, antusias orang zaman sekarang klo liat
tempat nongkrong, ada makanannya, plus gratis, dan bisa buat foto2an, langsung
deh pasti ke sana.
Tuh orang2 kelas menengah kayake bener2 haus hiburan gan.
Plusss, sekali lagi plusss…jadi korban media, dan sosial media.
Gimana ndak? Tuh liat hampir semua media di Surabaya
nyiarin, mberitain gede2 semua acara itu, plus viral di sosial media. Aku
sendiri juga heran, kenapa acara gitu bisa masuk liputan di media, padahal inti
acarane ya sama aja. Anda keluar rumah, keluar uang, hore2, senang sesaat, lalu
lelah.
Lalu misalnya ada yang ngebantah,”Lho acaranya itu kan
gratis”. Lha, gan gratis kan acaranya, terus ente ke sananya naik apa? Ngesot?
Pasti paling ndak naik kendaraan kan, dan itu keluar uang buat beli bensin.
Okeh, kalopun kalian ngesot, pasti bakalan lelah juga kan? Malah lebih parah
sodara!!!!
Yaa….akan selalu begitu sodara.
Makanya, belakangan klo ada yang ngajakin aku ke acara macem
gitu mending ndak deh. Klo buat aku yang
asli Suroboyo sih bakalan lebih asyik klo HUT Surabaya gak perlu banyak acara, tapi
kualitas hidup penduduknya terus diperbaiki, gak ada penggusuran, en gak ada
banjir karena pinggiran pantai mau dibuat apartemen ato perumahan elit kaum
pendatang.
Kamis, 18 Desember 2014
Menikmati Sepiring Ketan Punel Mas Wahyu
Sekitar 2 minggu lalu, temenku sekantor sebut aja
namanya Mas Wahyu ato biasa dipanggil Mas Wah, ngajakin buat nongkrong ke
depannya Taman Bungkul. Katanya sih di sana ada tempat nongkrong baru yang enak
banget.
Ternyata tuh tempat emang punyanya dia #modus
-____-. Namanya Kedai Ketan Punel. Tapi emang bener sih gan, tempatnya emang
asik. Deket dari rumah, mudah dijangkau (secara siapa juga yang gak kenal ama
Taman Bungkul Surabaya), n lokasinya ada di outdoor, karena ada di halaman
salah satu rumah yang ada di situ. Ancer2nya sih (bahasa apa lagi ini ki sanak?), Jalan Raya Darmo yang mengarah ke kota, ato sebrangnya Taman Bungkul, 2 rumah sebelum Gerai Esia.
Nah sesuai namanya Kedan Ketan Punel, makanan utama
yang dijual di sana ya jelas ketan. Jadi jangan berharap deh kalau di sana
bakalan jualan mie ramen, pizza, ato burger. Tapi mungkin juga sih klo
kedepannya Mas Wah pengen ngembangin usahanya.
Oke fokus lagi gan!!!!Ketan Punelnya Mas Wahyu ini
sebenarnya juga punya banyak varian gan. Mulai dari ketan pelangi, ketan pedes,
ketan serbuk kedelai, ampe ketan keju juga ada gan. Aku akuin deh gan, nih
ketannya Mas Wahyu rasanya bener2 pecah, alias enak. Coz awalnya aku yang gak
terlalu doyan makan ketan, sekarang jadi tau klo ketan itu rasanya enak juga.
Boleh dibilang tuh rasa ketannya perpaduan antara legit sama punel. Apalagi
makannya waktu masih anget, plus kopi ato the anget juga. Pokoknya juara!!!!!!
Bahkan, dulu aq juga mikir klo ketan itu makannya
masyarakat kelas bawah gan. Eh, gegara datang ke kedainya Mas Wahyu, aku jadi
tau klo banyak pejabat dan orang kaya yang juga doyan makan. Buktinya, di salah
satu sudut temboknya ada gambar orang2 penting yg pernah makan ketan punelnya
Mas Wahyu. Mulai dari Gus Ipul, polisi, wartawan, bahkan sampe pemain timnas
Evan Dimas juga pernah makan. Asli bukan Hoax.
Makanya buruan aja nyobainnya gan. Tapi lbh asyik
sih klo kesananya ama temen. Soalnya tuh ketan punel bakalan lebih nikmat klo
jadi temen ngobrol ama temen. Oke selamat berburu kuliner gan!
Nah, ini penampakan ketan punelnya gan, yang ini namanya Ketan Punel Pelangi
Ini view kedainya gan, nyaman buat nongkrong.Itu klo gambarnya diperbesar,bnyk foto orang penting (eeaaaa) yg uda makan Ketan Punel.Oiya,coba tebak yg mana Mas Wahyu nya?
Klo yg ini sih pengunjung paling ganteng dan cute versi On The Spot gan
Langganan:
Postingan (Atom)







.jpg)
.jpg)
.jpg)