Pencinta sastra tentu mengenal novel sejarah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Novel dengan latar Indonesia pada masa penjajahan Belanda pada 1898 hingga 1918 itu disebut sebagai salah satu mahakarya atau karya terbaik Pramoedya.
Bumi Manusia ialah satu di antara empat novel (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) yang dikenal juga dengan sebutan Tetralogi Buru, karena dikarang saat Pramoedya diasingkan di Pulau Buru, Maluku, pada 1969 sampai 1979.
Bumi Manusia telah 19 kali cetak ulang sejak tahun 1980 sampai 2015. Diterjemahkan ke dalam 33 bahasa, di antaranya, Belanda, Tiongkok, Inggris, Jerman, Rusia, Ukraina, Swedia, Jepang, Spanyol, Perancis, Italia, Norwegia, India, Thailand, Filipina, dan lain-lain.
Tetralogi Buru mengantarkan Pramoedya meraih banyak penghargaan dunia di bidang sastra. Karena Tetralogi Buru pula Pramoedya berkali-kali masuk dalam daftar kandidat pemenang penghargaan Nobel untuk kategori sastra.
Majalah Time pernah menulis: “Pramoedya Ananta Toer, kandidat Asia paling utama untuk Hadiah Nobel.”
The New York Times menyebut “Pramoedya Ananta Toer adalah seorang master cemerlang dalam mengisahkan liku-liku emosi, watak, dan aneka motivasi yang serba rumit.”
Bumi Manusia, ditulis The Los Angeles Times, “Menukik dalam, lancar penuh makna, dan menggairahkan seperti James Balwin … Segar, cerdas, kelabu, dan gelap seperti Dashiell Hammett. Pramoedya adalah seorang novelis yang harus mendapat giliran menerima Hadiah Nobel.”
Sumber: https://www.viva.co.id/berita/nasional/731939-kisah-naskah-mahakarya-pramoedya-disimpan-di-lubang-tinja
Penyelundupan naskah
Namun tak banyak orang yang mengetahui kisah sebelum Bumi Manusia dicetak untuk kali pertama, sampai ke tangan pembaca, dan kemudian melambungkan nama Pramoedya. Pramoedya, yang dibuang ke Pulau Buru karena dituduh terlibat gerakan Partai Komunis Indonesia pada 1965, mengarang Bumi Manusia secara sembunyi-sembunyi di tahanan Pulau Buru.
Manuskrip atau naskah asli Bumi Manusia tak mungkin bisa keluar Pulau Buru karena pengawasan super ketat di sana. Ada seorang pria yang berjasa menyelundupkan naskah asli Bumi Manusia keluar Pulau Buru. Dia adalah Oei Hiem Hwie. Lelaki yang kini berusia 81 itu pernah ditahan juga bersama Pramoedya di Pulau Buru.
Oei sebenarnya kelahiran Malang tetapi bermukim di Surabaya setelah bebas dari Pulau Buru. Dia mendirikan sebuah perpustakaan untuk umum di Surabaya. Sebagian buku koleksinya adalah semua karya Pramoedya, termasuk naskah asli Bumi Manusia.
Oei bercerita, dia dikirim ke Pulau Buru pada tahun 1970, setahun setelah Pramoedya. Dia sebelumnya memang telah mengetahui Pramoedya ditahan di Pulau Buru tetapi belum tahu persis lokasi blok tempat Sang Master dibui.
Oei pun mencari informasi tentang di blok mana Pramoedya ditahan. Usahanya membuahkan hasil. Oei memperoleh informasi bahwa Pramoedya ditahan di Unit III. Dia mengakui sebenarnya informasi keberadaan Pramoedya didapat dengan relatif mudah. Sebabnya Pramoedya adalah orang yang populer sehingga banyak pula tahanan politik yang mengenalinya.
Keduanya mengobrol dan berdiskusi banyak hal setelah bertemu. Mereka kemudian kian akrab. Oei mengaku sering membantu Pramoedya, termasuk membantu melobi penjaga tahanan untuk meminjam mesin ketik.
Dengan mesin ketik itu, Pramoedya mengarang sebuah naskah yang kemudian menjadi cikal-bakal novel Bumi Manusia. Namun aktivitas mengarang itu dilakukan Pramoedya dengan sembunyi-sembunyi.
Untuk menjaga agar naskah hasil karangan itu tidak diketahui penjaga, Pramoedya dan Oei bersekongkol membuat lubang yang ditutupi sehingga menyerupai tempat penampungan tinja atau septic tank.
“Kami membungkus naskah yang diketik Pram di kertas tipis itu dengan daun pisang, dan dimasukkan ke lubang itu. Jadi orang-orang mengira kalau lubang itu memang tempatnya tinja,” kata Oei ditemui VIVA.co.id pada Senin, 1 Februari 2016.
Sumber: https://www.viva.co.id/berita/nasional/731939-kisah-naskah-mahakarya-pramoedya-disimpan-di-lubang-tinja
Pramoedya menolak
Berbagai naskah itu kemudian dikumpulkan Oei. Dia juga menyatukan semua naskah dengan lem yang terbuat dari singkong yang direbus hingga tanak. Saat Oei bebas, Pramoedya menitipkan naskah itu kepadanya.
Awalnya, Oei merasa khawatir dengan tindakan Pramoedya. Beruntung saat itu naskah yang telah disampul dengan kertas semen berulang kali lolos dari pemeriksaan, termasuk pemeriksaan saat Oei berada di kapal untuk kembali pulang ke Surabaya.
Meski demikian, Oei mengaku bahwa bukan hanya dia yang telah menyelamatkan naskah asli Bumi Manusia itu. Seorang pastor juga ikut menyelipkan naskah itu, bahkan mengirimkannya kepada Hasta Mitra, penerbit buku yang kali pertama mencetak Bumi Manusia.
Setelah Pramoedya bebas dari tahanan Pulau Buru, Oei berencana mengembalikan semua naskah yang disimpannya. Namun Pramoedya justru menolaknya. Pramoedya hanya meminta fotokopi semua naskah karyanya. Oei menduga, Pramoedya masih khawatir naskah itu akan dirampas aparat pemerintah Orde Baru. Dia merasa akan lebih aman jika naskah itu disimpan Oei.
Sampai sekarang naskah itu masih disimpan Oei di perpustakaan miliknya, yang juga dibuka untuk umum, Medayu Agung. "Jadi, biarlah seluruh generasi muda bisa mengaksesnya, karena naskah itu pada dasarnya milik semua anak bangsa," ujar Oei.
Sumber: https://www.viva.co.id/berita/nasional/731939-kisah-naskah-mahakarya-pramoedya-disimpan-di-lubang-tinja
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 Februari 2018
Selasa, 03 Januari 2017
Kabar Hoax 2017, Buto Ijo, dan Pemimpin Terbaik Asia Tenggara Versi Bloomberg
Sebelume aku mau ngucapin Selamat Tahun Baru 2017 buat
pembaca setia blogku ini. Eaaa…emang ada? #sokngartis
Harapan baru pun banyak diucapin orang2 di tahun yang baru
ini. Mulai dari rezeki yang makin berlimpah, kesehatan, bahkan sampai datangnya
jodoh yang sekarang entah di mana? #galaumaksimal buat yang masih jomblo.
Tapi harapan yang paling asik tuh ya berkurangnya ato bahkan
hilangnya berita HOAX dari jagat sosmed di Indonesia. Hmmm… kira2 bisa ndak ya?
Nah ini yang bakalan jadi pertanyaan kita gan. Kita mesti
apresiasi sih usahanya pemerintah buat merangin hoax. Secara sekarang ini
banyak banget kabar hoax yang beredar di sosmed. Mulai dari aku yang
disebut-sebut mirip ama Nicholas Saputra, lalu digosipin pacaran ama Pevita dan
sebagainya.
Tapi kalo jadi kenyataan ya gak papa sih.
Foto:
http://komputerlamongan.com/wp-content/uploads/2014/12/Berita-Sampah-dalam-Internet-Hoax.jpg
Ok fokus ke masalah asal ya gan. Tapi sadar gak sih, klo
sejak kecil kita selalu nerima kabar, cerita dan segala sesuatu yang berbau
hoax dari orang tua kita, ato orang yang lebih dulu hidup di Indonesia.
Misalnya klo ada gerhana bulan, tuh orang2 tua mesti bilang
kalo bulannya lagi dimakan ama Buto Ijo ato raksasa. Terus klo ada cewek yang
nyapunya gak bersih, mesti dibilang nanti kalo suaminya bakalan berewokan.
Terus Hoax untuk tingkatan yang beda tingkatan lagi…#tssaahhh…
beda tingkatan he he…misalnya persoalan klo Indonesia ini dijajah Belanda 350
tahun. Ini kan hoax gan…padahal Belanda lah yang butuh ratusan tahun buat
naklukin seluruh Indonesia, bukan kita yang dijajah. Gak percaya? Sonoh…baca
buku Bukan 350 Tahun Dijajah-nya Resink.
Terus ada yang bilang klo Maja Pahit tuh nyatuin seluruh
nusantara. Gak percaya ini hoax? Coba tanyain deh ke daerah lainnya di luar
Jawa, ato misalnya cukup ke Sunda aja. Pasti jawabannya beda banget. Apa ndak
hoax juga tuh?
Makanya, sebenarnya kita tuh uda biasa hidup dengan hoax.
Bahkan, cenderung menyukai hoax, asalkan itu hoax yang menyenangkan. Makanya,
aneh juga klo pemerintah sekarang mau merangin kabar hoax. Tapi gimanapun juga
tetep salut dan perlu diapresiasi lah. Setidake kemaren2 kan baru dapet
penghargaan dari Bloomberg sebagai pemimpin terbaik se Asia Tenggara. Eh…itu
termasuk HOAX bukan juga ndak ya? #ups keceplosan
Sabtu, 03 Januari 2015
Mengenal Budaya "Susulan"
foto: rightpath.co
"Waduh Kok Onok Susulan?"
Coz, kalo denger kata itu, mereka pasti bilang kayak
gini,”susulan? Sopo sing mati yo?”. Tau artinya? Oke deh klo gak ngerti, kira2
gini terjemahannya,”Susulan? Siapa yang mati ya?”.
Yap, budaya “susulan” memang selalu identik dengan
kematian. Biasanya, hal itu dilakuin ama keluarga, atau kerabat dekat, dan
orang yang masih punya hubungan dekat deh. Contohnya, orang tua, sodara, atau
teman.
Budaya “susulan” itu klo diterjemahin ke Bahasa
Indonesia memang agak susah. Mungkin kurang lebih artinya member kabar atau
ngabari, walaupun bisa juga diartikan menyusul sodara dan memberikan kabar.
Sebenarnya aq ndak tau apa “susulan” itu bisa
berarti aktivitas lainnya. Tapi sejauh yang aku tahu emang selalu identik ama
pemberian kabar tentang kematian. Budaya itu muncul karena keterbatasan alat
komunikasi pada zaman dulu. Bayangin aja, berapa orang yang punya hp? Jangankan
hp, telpon rumah aja masih jadi barang mewah di era 90 an, menyita kekaguman
orang sekampung. “Wuiiihhhh Pak Zaenal uda punya telpon rumah lho sekarang,
tapi dia mau telpon siapa ya? Kan sodara dan temannya ga ada yang punya telpon,”.
Nah lho….
Mereka yang ditugasi juga rela menempuh jarak yang
jauh banget gan. Belum lagi, mereka juga msh harus nanggung resiko klo sodara
yang mau dikabarin itu g ada di rumahnya. Pasti mereka bakalan nungguin sampai
tuh orang ada di rumah, ato klo gak gitu beritanya ya jadi basi deh gan.
Langganan:
Postingan (Atom)




